My English Experience

Saya percaya bahwa ‘bahasa bisa karena biasa’. Saya tidak pernah menyangka akan begitu terjerumus dalam rasa cinta terhadap apa yang saya sedang pelajari sekarang, Pengkajian Amerika. Membuat analisis ribuan kata terhadap kebudayaan dan isu-isu yang sedang terjadi di Amerika Serikat dalam bahasa Inggris. Sebagian orang mungkin akan berpikir, “Lah, nulis makalah/skripsi/thesis dalam Bahasa Indonesia aja susah minta ampun, gimana nulis makalah/skripsi/thesis dalam Bahasa Inggris?”. Memang semua itu adalah proses.

Awalnya saya selalu tertarik dengan pelajaran Bahasa Inggris karena saya pikir belajar Bahasa Inggris tidak seperti belajar matematika. Lebih mudah dan tidak perlu berhadapan dengan angka-angka yang seolah-olah siap menyerang saya. Namun, pemikiran tidak mau ‘susah’ ini lah yang membuat saya terjerumus kedalam kecintaan saya terhadap bahasa dan budaya. Saya mulai belajar Bahasa Inggris sejak saya kelas 1 SMP. Orang tua saya memfasilitasi saya dengan baik dengan memasukkan saya ke dalam institusi pendidikan non-formal Bahasa Inggris. Selama kurang lebih lima tahun, saya belajar Bahasa Inggris dari segala aspek, membaca, menulis, berbicara, mendengarkan, pengucapan, dan kosa kata. Di dalam kurun lima tahun tersebut, saya memiliki kecenderungan untuk lebih suka mendengarkan musik dan menonton film dalam Bahasa Inggris. Menurut saya, kedua hal tersebut adalah cara yang paling menyenangkan yang bisa dipraktikkan untuk menambah input Bahasa Inggris saya. Saya banyak menguasa kosa kata baru melalui lirik lagu dan terjemahan film. Di saat yang bersamaan, saya juga mengetahui dan melati cara pengucapan kosa kata tersebut melalui penuturan karakter film atau penyanyi. Sampai sekarang, kedua hal ini masih rutin saya lakukan untuk memperoleh kosakata dan melatih cara pengucapan yang baik.

Ketika memasuki jenjang perkuliahan, saya ‘dipaksa’ untuk mulai membaca artikel dalam Bahasa Inggris, dan memberikan output dalam bentuk tulisan. Sejujurnya, kedua metode ini bukanlah cara yang saya sukai dalam belajar bahasa Inggris. Namun, ini merupakan salah satu kewajiban saya sebagai mahasiswa yang harus saya penuhi. Selama kurang lebih empat tahun terbiasa melakukan rutinitas yang sama, input-membaca artikel dalam Bahasa Inggris, output-menulis makalah dalam Bahasa Inggris, saya menyadari bahwa rutinitas tersebut telah mengasah kepekaan saya terhadap Bahasa Inggris. Kemampuan saya sedikit demi sedikit meningkat. Saya bisa ‘merasakan’ makna yang terkandung dalam setiap kata yang saya pilih untuk saya katakan atau saya tulis. Sampai saat ini proses pembelajaran saya terhadap Bahasa Inggris masih terus berlangsung. Namun, sekarang proses tersebut sudah tidak lagi pada tataran grammar saja. Proses yang sedang saya alami sekarang adalah bagaimana menyampaikan pemikiran saya secara runut dan jelas sehingga penerima bisa dengan jelas mengerti apa maksud dan ide yang terkandung dalam perkataan saya.

Poin pentingnya adalah belajar bahasa, Bahasa Inggris terlebih lagi, tidak seperti belajar matematika yang bisa menggunakan cara-cara pintas dengan hasil yang pasti. Belajar Bahasa Inggris adalah pembelajaran seumur hidup karena kita mempelajari sesuatu yang berkembang. Menurut saya hanya ada satu rumus dalam belajar bahasa Inggris, ‘bisa=biasa’. Semakin sering berbicara, mendengarkan, membaca, dan berlatih maka akan semakin mahir.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *