Susah-Susah Gampang

Oleh : Ridwan

Belajar bahasa Inggris itu sebenernya hal yang susah-susah gampang. Susah karena memang belajar bahasa itu  butuh tahapan tahapan dan cara yang effektif agar gampang diserap dan diingat oleh otak, dan mudah sebetulnya, karena apabila kita sudah tahu dan mengerti bagaimana caranya, akan sangat mudah buat kita untuk melakukan improvisasi skill bahasa kita, dan ini berlaku untuk semua pembelajaran bahasa asing.

Berkaca dari pengalaman saya sendiri, saya dulu pertama kali belajar bahasa Inggris ketika saya kelas 3 SD. Saya ingat di tahun itu saya 2x ganti course karena menurut ibu saya saat itu metodenya sangat out of date, yaitu pelajaran di kelas dan gurunya jarang untuk berbicara dalam bahasa Inggris. Setahun kemudian ketika saya masuk kelas 4 SD, ibu saya menyarankan untuk memasukkan saya ke kelas conversation bahasa inggris, yang metodenya saat itu benar-benar non-konvensional, karena murid-muridnya dituntut untuk” berani bicara dulu, grammar nyusul belakangan”. Adik saya duluan masuk ke dalam kursus Inggris itu dan hasilnya memuaskan , Singkat kata, saya dan adik saya bertahan belajar di kursus itu selama kurang lebih 4 tahun lamanya.

Dalam kurun waktu 4 tahun itu, kebetulan keluarga saya juga kelihatana puas dengan hasil belajar bahasa Inggris saya dan adik saya, sehingga mereka juga memutuskan untuk mencampurkan bahasa Inggris ke dalam percakapan sehari-hari kami. Buntutnya adalah ketika kami sekeluarga akhirnya umroh dan jalan-jalan ke luar negeri yaitu Turki, pada tahun 2004 silam, ketika itu saya sangat puas dengan kemampuan bahasa yang saya memiliki karena saya bisa dengan mudahnya berkomunikasi dengan orang asing dan negeri yang asing juga. Kuncinya adalah simple, percaya diri.

Sayang sekali, setelah saya memutuskan untuk berhenti dari kursus itu, karena dirasa sudah tidak ada lagi proses improvisasi,kemampuan bahasa inggris saya mandek dan cuma bertambah sedikit sedikit koleksi kosakatanya, hanya karena saya rajin main videogame pada saat itu. Buntut kesadaran bahasa inggris saya mandek  saya adalah ketika saya diberikan soal Toefl Prediction ketika saya kelas 2 SMA, saya tidak siap dan hasilnya tidak bagus, kalo tidak salah hanya sekitar 450 skor saya. Saya pun mencoba untuk memperbaiki bahasa inggris saya dengan mendaftar ke salah satu kurus bahasa Inggris ternama di Jakarta. Alih-alih jadi mendaftar ternyata saya baru sadar kalo kemampuan verbal bahasa Inggris saya juga menurun karena sempat hampir 3 tahun tidak dipraktikkan, saat itu saya di interview oleh salah satu pengajar, dan dia mengoreksi grammar dan cara bicara saya dengan bahasa Indonesia. Malu rasanya saya saat itu, dan saya bicara dengan cara yang buruk dan tidak sistematis, saya direkomendasikan untuk masuk ke kelas intermediate 1, dan saya tidak ambil karena gengsi. 2 tahun kemudian saya masuk kuliah dan dalam 3 tahun belakangan itu, ternyata bahasa Inggris saya lama kelamaan menjadi passive, dan  saya lebih banyak bingungnya daripada bisanya ketika menghadapi artikel-artikel akademis sulit dalam bahasa Inggris di perkuliahan.

Saya bertahan di fase in  sampai semester 5 saya , ketika itu saya sadar bahwa saya harus kembali di titik dimana saya mulai, yaitu tepat kursus saya yang lama. Ketika itu saya ambil kelas private selama sebulan 2x seminggu dan kembalilah ke skill bahasa inggris saya ketika saya SMP. Kemudian dengan harapan skill bertambah tetapi dengan bayaran yang lebih murah, saya mencoba daftar kelas conversation lagi di lembaga bahasa di kampus saya. Saat itu kemampuan bahasa saya sudah aktif lagi, dan interviewernya bahkan menghimbau saya untuk mengambil kelas lain lain seperti Toefl-prep atau Academic English, tapi saya menolak, hasilnya adalah, saya hanya bertahan di kelas itu selama 1 hari atau 1 pertemuan. Akhirnya saya mencoba cara belajar otodidak belajar bahasa Inggris sambil mengembangkan dan menambah kosakata saya, yaitu saya baca  dengan lantang material bahasa Inggris saya di depan monitor computer saya, agar saya bisa dengar sendiri bagaimana cara saya membaca bahasa Inggris. Dengan cara belajar itu ternyata saya mengenal yang namanya tempo dalam bicara bahasa inggris dan juga kosakata-kosakat baru. Untuk tambahan saya juga belajar mengontrol dan tempo dan aksen dari video-video bahasa Inggris di youtube ternyata cara saya sangat-sangat effecktif. Saya lakukan metode in selama 1 semester, dan saya puas.

Akhir semester 7 saya, saya memutuskan untuk meningkatkan nilai Toefl saya dengan signifikan, dan saya akhirnya memutuskan untuk mengambil kelas trial di salah satu kursus bahasa Inggris yang ternama yang sebelumnya pernah saya tidak ambil kelasnya karena gengsi. Saya menjawab semua pertanyaaan placement test dengan hanya 2 nomor kesalahan dan akhirnya datangnya saat untuk interview. Saat itu yang meninterview saya adalah orang Inggris, dan di luar perkiraan saya, ternyata cara belajar otodidadak non konvensional saya membuahkan hasil disini. Saya bisa menyamakan tempo bicara saya yang cepat namun dengan tempo yang stabil dan ritmis, dan juga saya bisa menggunakan istilah-istilah English-American seperti penggunaan kata mile untuk menunjukkan satuan jarak. HAsilnya adalah Interviewer Inggris ini menyarankan saya untuk tidak mengambil kelas Toefl prep ini, karena “kelas ini membosankan, dan kamu akan bosan dengan cepat” begitu katanya. Terbukti benar ternyata, kelasnya sangat passive dan membosankan, meskipun yang mengajar adalah guru perempuan dari  Amerika yang kelihatannya aktif dan terbuka ke murid-muridnya. Setelah trial 1 hari, saya tidak kembali lagi kesana, dan selesailah sudah petulangan saya mencari kursus bahasa Inggris di Jakarta.

Pada akhirnya metode yang paling effektif untuk saya saya, pertama belajar untuk percaya diri dalam berbicara bahasa Inggris, dan kedua adalah belajar untuk menonton film tanpa subtitle, dan ketika adalah banyak-banyaklah membaca artikel bahasa Inggris. Dan ketiga hal ini juga berlaku untuk saya ketika belajar  bahasa-bahasa lain selain bahasa Inggris, seperti yang saya pelajari hingga hari ini, yaitu bahasa Jerman dan Prancis. Saya bisa saja dengan cueknya  menghampiri teman kerja saya dahulu yang berkebangsaan Swiss dan Jerman dan nyerocos dengan bahasa mereka meskipun ternyata grammar saya berantakan dan saya tidak bisa  menjawab dan mengerti ketika mereka membalas dengan bahasanya, sehingga percakapan harus dilanjutkan dengan bahasa Inggris.
Harapan ke depannya adalah dengan bergabung menjadi tenaga pengajari di BritishEnglishClass, saya bisa berbagi pengalaman dan metode saya dalam belajar bahasa ke peserta didik saya, ditambah lagi saya bisa menambah skill saya yaitu sebagai tutor.