Survival Kit

Oleh: Mely

Tidak bisa kita pungkiri kalau Bahasa inggris adalah salah satu ‘survival-kit’ dalam hidup ini. Mulai dari ilmu kedokteran hingga multimedia menggunakan Bahasa inggris, maka dari itu saya tertarik untuk mempelajari bahasa yang orang bilang Bahasa dunia.

Tekat belajar itu sendiri dimulai waktu saya duduk di kelas empat, sebagai murid baru di sekolah itu dan termasuk murid tiga besar, sang juara satu pun mulai memandang saya, dan mencari pelajaran yang saya tidak terlalu paham pada saat itu, yaitu Bahasa inggris. Dari situ saya diolok-olok karna kelemahan saya dalam bercakap Bahasa inggris, awal nya itu membuat saya sedih dan kecewa, tapi saya bangkit dan mendorong diri saya untuk mempelajari Bahasa inggris, bukan untuk membuktikan dia kalau saya mampu, namun untuk membuktikan diri saya sendiri kalau saya punya kemampuan untuk berbicara, mengerti, dan menulis dalam Bahasa inggris.

Saat saya beranjak Sekolah Menengah Pertama, orangtua saya memutuskan untuk mengambil program international yaitu ‘’IGCSE’’ ,sebenarnya program ini sederajat Sekolah Menengah Atas dan karna saya baru beradaptasi dengan Bahasa inggris saya gagal dalam ujian ini. Orang tua saya tidak marah atas kegagalan saya, bahkan mereka memotivasi saya untuk berbuat lebih, dan dari situ pula saya dikirim ke Malaysia untuk belajar. Puji syukur kepada Tuhan YME karna saat itu kemampuan ingrgris saya sudah lebih tajam, itu juga bantuan dari camp yang orangtua saya ikutsertakan. Camp yang berbasis di Singapur ini mempertemukan saya dengan anak anak yang memang sudah dari kecil ditanamkan bibit Bahasa inggris. Awal nya saya minder dengan kompetensi mereka, namun lagi lagi saya ambil kesempatan ini untuk mempraktekan Bahasa inggris saya. Camp itu hanya berlangsung selama empat hari, kemampuan berbahasa saya tidak langsung meroket, tapi sejak saat itu percaya diri saya dibangkitkan, sampai hari ini saya menjadi Coach di camp tersebut, yaitu ‘Iam Gifted camp’ dari Adam Khoo learning centre.

Kejadian terakhir yang baru saja terjadi adalah persiapan saya untuk pengujian IELTS. Sebelum saya masuk tempat bimbingan belajar, saya diharuskan untuk tes terlebih dahulu untuk melihat sampai mana kemampuan saya, dan saya mendapatkan band 5.5 sebagai skor keseluruhan saya. Karena saya ikut bimbingan private saya pun dapat mengatur berapa lama kursus yang akan dijalani selama total pertemuan adalah 30 jam. Karena waktu saya didorong oleh pendaftaran universitas, saya pun memutuskan untuk mengambil kelas setiap hari kecuali hari libur selama dua jam, yang membuat saya mempunyai tiga minggu pertemuan. Dalam tiga minggu yang intensif ini saya tidak banyak melakukan latihan soal seperti murid lainnya*. Pada saat itu saya lebih mementingkan kualitas dari pada kuantitas. Saya lebih memilih melakukan 10 latihan soal daripada 30 latihan soal dengan strategi yang sama. Rencana saya sangatlah sederhana yaitu, melakukan latihan soal, mengeceknya, dan cari bagian yang saya tidak mengerti atau yang banyak kesalahan terjadi, dan lalu saya cari tahu  tentang jenis soal itu, saat saya sudah bisa menjawab jenis soal itu, saya pindah ke latihan soal yang lain. Teknik ini membuat saya dapat meningkatkan paling kecil satu band dalam jangka waktu kurang dari sebulan.

Dengan ini saya sampaikan cerita bagaimana saya bisa mencapai pencapaian kemampuan saya saat ini, dengan merubah mindset saya dan bekerja keras, saya bisa membuktikan kemampuan saya ke diri sendiri. Bahkan sampai sekarang saya terus belajar dan belajar, tiap hari saya bertanya kepada diri saya sendiri, bagaimana saya bisa lebih baik dari kemampuan saya yang kemarin, karna saya percaya, satu satu nya orang yang kita harus bandingkan dengan kemampuan kita adalah diri kita yang kemarin.