Dora The Explorer

Oleh : Erwin

Saya mulai belajar Bahasa Inggris sejak saya berumur lima tahun. Saya sangat beruntung telah mendapatkan kesempatan untuk berles di les-lesan di mana guru-gurunya adalah orang luar negri. Di les-lesan tersebut, saya belajar bersama teman-teman lain yang seumur saya. Kita diajari berbagai macam pelajaran, dari topik budaya barat ke hal-hal yang lebih kontroversial. Namun, saya masih ingat sekali, saat saya kecil, saya sudah menyukai menonton film-film barat. Kartun yang dulu saya nonton salah satunya adalah Dora the Explorer. Walaupun hal ini sepertinya kekanak-kanakan, namun kartun tersebut membantu saya mengembangkan Bahasa saya. Kemudian, di sekolah saya, guru kami menekatkan pentingnya belajar Bahasa Inggris. Kami, setiap minggunya, setidaknya belajar Bahasa Inggris selama 4 jam. Guru kami pun tidak mengizinkan kami untuk berbahasa Indonesia di pelajaran Bahasa Inggrisnya sebab menurut dia, kalau kita tidak membiasakan diri berbicara Bahasa Inggris, maka akan lebih susah buat kami untuk benar-benar bisa berbicara serta menggunakan Bahasa Inggris.

Di sekolah saya dulu, saya diajari pelbagai peraturan Bahasa Inggris, mulai dari Subject Verb Agreement, sampai ke conditional sentences. Kami dulu diberikan latihan setiap hari untuk memperbaiki grammar kami. Guru saya pun mendorong saya untuk menggunakan Bahasa Inggris di publik. Ketika saya umur 8, saya dipilih untuk menjadi MC di acara kelulusan kakak saya. Seluruh acara tersebut dilaksanakan dalam Bahasa Inggris. Ditambah lagi, ketika saya umur 9 tahun, saya dipilih untuk menjadi tour guide pada open house sekolah saya.

Saya lanjut les Bahasa Inggris sampai saya pindah ke Singapura. Awalnya, saya kira Bahasa Inggris saya cukup untuk mencapai nilai yang bagus di sekolah di Singapura. Namun, saya salah besar. Di sana, mereka lebih menekankan tulisan dan pemahan bacaan. Saya akhirnya les, tetapi guru saya kurang cocok dengan saya karena dia tidak bisa beradaptasi untuk memenuhi kebutuhan saya dan cara belajar saya. Meskipun begitu, saya tidak mengganti guru karena saya kira nilai saya tidak membaik karena salah saya sendiri.

Untungnya, di tahun berikutnya, saya dipernekalkan kepada guru Bahasa Inggris yang lain. Mulai dari saat itu, kemampuan saya dalam Bahasa Inggris naik pesat. Guru itu pun yang membuat saya mulai suka membaca berita serta buku cerita. Dulunya, susah sekali buat saya menyukai membaca soalnya saya lebih suka menonton. Tetapi, guru tersebut menunjukkan kalau berita dunia sangat menarik dan ada beberapa buku yang menarik perhatianku. Tiap minggu, saya dipaksa untuk mengarang sebuah esai dan melakukan latihan pemahaman bacaan. Hal ini membutuhkan sangat banyak waktu.

Saya sampai sekarang pun masih membaca berita di dalam Bahasa Inggris karena menurut saya berita di dunia sekarang sangat lah menarik. Oleh sebab itu, kosa-kata saya terus berkembang. Tidak hanya di dalam hal-hal general, namun di pelbagai bidang, dari bisnis, ekonomi, sampai bidang medis pun. Buku-buku pun yang saya baca biasanya di dalam Bahasa Inggris, karena kalau kita membaca sesuatu dalam terjamahan aslinya, kita akan bisa lebih memahami maksud penulis. Ditambah lagi, saya sudah terlalu terbiasa dengan Bahasa Inggris, sampai-sampai kalau saya membaca bacaan dalam Bahasa Indonesia, itulah hal yang cukup melelahkan.

Menurut saya, sampai sekarang pun saya masih belajar Bahasa Inggris. Kadang kala, ketika saya membaca buku, saya tidak paham dengan kata-katanya, maka saya mengembangkan kosa-kata saya. Ditambah lagi, ada juga waktu di mana saya menemukan pepatah baru yang jarang saya dengar. Hal ini menunjukkan bahwa saya masih berkembang di dalam mempelajari Bahasa Inggris, meskipun saya telah mempelajarinya selama 13 tahun.

Belajar Bahasa Inggris bisa menarik dan menyenangkan, seperti apa yang saya telah alami.